Selasa, 26 April 2016

Dana Desa untuk Akses Internet dan Kemajuan Desa

24 April 2016 23:38:34 Diperbarui: 25 April 2016 18:15:14 Dibaca : 135 Komentar : 1 Nilai : 1
Para warga, terutama ibu rumah tangga, membuat produk roti berisi selai pala di Gampong/Kampung Lhok Rukam, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, pertengahan Maret lalu. (KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH) 
 "Tengkiu ya Sis, transferannya...." "Ok Bro, sudah saya kirim, silahkan cek resinya...." Percakapan di atas sudah tidak asing lagi bagi kita. Dengan terbukanya akses internet yang merata, hampir semua produk yang bisa dikirim melalui jasa pengiriman dan kargo, bisa dijual. Beberapa produk yang biasanya hanya ada di pasar tradisional dan menjadi jajanan marjinal, menjadi naik kelas dan setara dengan jajanan yang hanya ada di kota besar. Kini, cireng setara dengan pizza, keripik pisang setara dengan kentang goreng ala restoran fast food, sampai telor asin pun [semoga] setara dengan burger.... Dalam banyak situasi, penyetaraan kapasitas daerah [baca: desa] sedang dalam perkembangan yang signifikan. Semuanya itu terjadi berkat adanya teknologi informasi berupa jaringan internet. Jangkauan internet inilah yang menurut saya menjadi faktor penentu setara antara desa dengan kota.    Banyak di antara pemuka agama dan tokoh masyarakat desa yang takut akan dampak buruk dari masuknya jaringan internet ke desa, kekhawatiran yang diungkapkan akan terbukanya akses pornografi di kalangan masyarakat dan habisnya waktu untuk bermain game online di komputer. Internet hanya alat, dia akan bermanfaat di tangan yang tepat dan akan merusak jika digunakan tidak semestinya. Banyak kemanfaatan yang didapat dengan adanya akses internet yang masif sampai ke desa.  Bisa jadi desa sebagai vendor penyedia jasa terhadap kebutuhan pasar.  Bisa jadi pasar produk desa yang biasanya terbatas secara geografi, bisa menembus batas imajiner khas produsen pedesaan. Bisa jadi layanan berbasis internet menjadikan efisiensi birokrasi menjadi lebih tinggi. undangan rapat dan FGD (Focus Group Discussion) menjadi lebih efektif melalui sarana group media sosial ataupun layanan pesan/suara berbasis jaringan. Banyak hal lain yang menjadi berkembang. Bisa jadi desa sebagai marketplace yang mengisi ceruk pasar yang belum terpenuhi oleh marketplace bermodal besar, dan bisa menjadi sumber dan akses ekonomi yang sangat besar. Dengan banyaknya manfaat dari akses jaringan internet ke desa dan dibuat semurah mungkin, bisa jadi kreativitas pemuda akan lebih terasah. Manfaatkan Dana Desa untuk membuat jaringan internet menjadi masif, stabil kualitas jaringannya, dan murah bagi masyarakatnya. Caranya bagaimana? Bisa sharing wifi atau apa pun, itu hanya sekedar masalah teknis yang dapat dipecahkan dengan teknologi yang ada sekarang. Yang masih menjadi PR adalah mindset masyarakat [dan pemerintah daerah - mengacu bahwa masyarakat desa masih belum terbuka tentang internet dan untuk kemudahan administrasi laporan pertanggungjawaban dana desa] bahwa pembangunan itu harus berbentuk fisik. "membangun jembatan, pengaspalan jalan, saluran irigasi, dan pembanguna berbentuk fisik lainnya. Semoga ada terobosan gagasan yang berani di tingkat desa untuk membangun sesuatu yang kasat mata tetapi bermanfaat besar bari kemajuan daerah [desa]  yakni jaringan internet masif, massal, dan murah... salam dari desa......  

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/edyripyanto/dana-desa-untuk-akses-internet-dan-kemajuan-desa_571cf68a64afbd0b0ccd860c

Jumat, 22 Januari 2016

Otonomi Desa bersenjata DD dan ADD

Seiring dengan perkembangan situasi dan kondisi yang sudah digulirkan Pemerintah Pusat tentang "Otonomi Desa" yang diimplementasikan dengan kucuran Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) secara Nasional,maka semua desa dipaksa untuk bersaing membangun daerahnya dan suka tidak suka semua komponen perangkat desa wajib melek teknologi,melek administrasi dan melek organisasi.

Melek teknologi ;
semua data desa harus ter up date di http://prodeskel.binapemdes.kemendagri.go.id/ maka setiap desa harus ada jaringan internet dan harus ada yang menjalankan (kalau disini disebut "operator") yang bertugas up date data.

Melek administrasi ;
Perangkat desa dituntut dan wajib paham administrasi mulai dari Kepala Desa sampai KAUR sesuai Tugas Pokok Seksi (tupoksi) masing-masing dan paham tentang RPJM,RAB,RKA,Insfrastruktur dan lain-lain istilah yang ada dalam komponen ADD dan DD.

Melek Organisasi ;
Semua komponen masyarakat desa mulai dari Kepala Desa sampai masyarakatnya harus paham apa itu organisasi dan manfaat berorganisasi,mulai dari Struktur,seksi-seksi dan tupoksi masing-masing.

Dengan ketiga komponen dasar ini maka Program Otonomi Desa yang di canangkan Pemerintah Pusat akan berjalan lancar sesuai rencana.

"Pembangunan dimulai dari Desa artinya nasib desa ditentukan oleh masyarakat desa itu sendiri"
Mau maju yok kita berbenah " Kalau bukan kita siapa lagi yang akan membenahi desa sendiri"

ttd;

seno (opt.)